PROPOSAL PTK

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS


IDENTITAS PENELITI UTAMA :
NAMA :.......................
UNIT KERJA : SMP Negeri 1 Pucanglaban

IDENTITAS KOLABORATOR - 1 :
NAMA :.......................
UNIT KERJA : SMP Negeri 1 Pucanglaban


IDENTITAS KOLABORATOR - 2 :
NAMA :.......................
UNIT KERJA : SMP Negeri 1 Pucanglaban


JUDUL PENELITIAN :
Penggunaan Metode Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan kemampuan dan kreatifitas Siswa dalam Belajar Microsoft Excel di Kelas VIII B SMP Negeri 1 Pucanglaban


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah :
Microsoft Excel adalah salah satu materi pelajaran TIK untuk kelas VIII B. Pada setiap pembelajaran di ruang komputer materi disampaikan dengan cara membagi dua kelompok siswa, hal ini dilakukan karena sarana komputer yang tidak cukup untuk seluruh siswa yang berjumlah 39-48 siswa sementara komputer yang ada hanya 20 unit dan itupun terkadang seringnya muncul kemacetan saat sedang digunakan. Karena alasan tertentu juga pembelajaran komputer diberikan secara klasikal, artinya seluruh siswa dalam sekelas belajar sekaligus sehingga siswa menggunakan satu unit komputer berdua.
Kondisi pembelajaran seperti itu menimbulkan beberapa permasalahan, yaitu :
1. Siswa belajar hanya satu jam pelajaran untuk setiap kelompok sehingga pengerjaan latihan dibutuhkan beberapa kali pertemuan dan terbatasnya kesempatan untuk siswa mengembangkan kreatifitasnya,
2. Karena ruang menjadi sempit oleh meja dan komputer maka jika ada siswa yang bertanya terasa sulit untuk dihampiri terlebih jika satu kelas masuk secara bersamaan,
3. Hasil belajar pada setiap pengerjaan latihan tidak tercapai tepat waktu,
4. Sebenarnya penyampaian materi dengan menggunakan OHP cukup membantu guru dalam menjelaskan materi tetapi itu juga belum maksimal karena sifat penyampaian yang berbentuk gambar-gambar perintah yang terbatas sehingga penyampian materi kurang jelas,
5. Siswa selalu lupa materi pelajaran (teori, perintah, gambar dan cara-cara melakukan) ,
6. Karena siswa dibagi dalam dua kelompok maka menerangkan materi pelajaran menjadi dua kali juga dan itu secara psikologis memberikan pengaruh kepada pengajar,
7. Hasil pembelajaran sangat kurang memuaskan karena dari hasil pengamatan siswa yang benar-benar dapat mengerjakan soal-soal latihan dengan benar berkisar dibawah 20% (8 orang) dari 39 siswa.
8. Atas dasar kenyataan inilah, maka perlu dicari alternatif lainnya dengan melakukan inovasi dan pendekatan, baik itu dalam penggunaan media ataupun metode penyampaian sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan.

B. Perumusan Dan Pemecahan Masalah
Perumusan Masalah :
Perumusan masalah dari PTK ini adalah :
1. Sejauh manakah penggunaan tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar Microsoft Excel?
……………………….( dari sisi siswa )
2. Apakah penggunaan tutor sebaya dapat meningkatkan kreatifitas siswa dalam belajar Microsoft Excel?
……………………….( dari sisi guru )

Pemecahan Masalah :
Sebagaimana yang telah dijelaskan di latar belakang bahwa yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat kemampuan dan kreatifitas siswa kelas VIII B SMPN 1 Pucanglaban dalam mempraktek latihan kerja siswa pada materi Microsoft Excel.
Berdasakan identifikasi masalah dan pengamatan yang dilakukan pada setiap mengevaluasi hasil belajar, siswa yang dinilai menguasai dan dapat mengerjakan latihan dengan benar dan tepat sesuai dengan ketentuan dan cara-caranya berkisar 20% (8 orang) dari 39 siswa.
Berdasarkan kepada masalah yang telah diuraikan pada pendahuluan maka salah satu pemecahannya adalah dengan menggunakan metode Tutor Sebaya hal ini didasarkan juga kepada beberapa alasan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Winarno Surakhmad (1979 : 184) bahwa memilih metode mengajar tidak bisa sembarang hal ini disesuaikan dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti :
1. Tujuan
2. Anak didik dengan berbagai jenis kematangannya.
3. Situasi
4. Fasilitas : Kualitas dan kuantitas.
5. Pribadi guru.
Dari uraian di atas maka dalam pemecahan masalah ini diambil langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut :
1. Menyusun rencana pembelajaran dan strategi pembelajaran yang lebih efektif sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
2. Melakukan tes untuk mengelompokan siswa. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan siswa dan kreatifitas siswa dalam cara mengerjakan tes.
3. Membuat kelompok siswa yang dijadikan sebagai tutor (siswa yang dianggap sudah mengerti/ pandai) dan kelompok siswa yang menjadi teman sebaya dalam pembelajaran. Pembagian kelompok berdasarkan kemampuan siswa ini dilakukan untuk beberapa kali pertemuan atau beberapa siklus yang selanjutnya akan dikelompokan secara acak pada siklus terakhir.
4. Menggunakan media pembelajaran (LCD Proyektor) sebagai alat bantu untuk menjelaskan materi pelajaran.

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dan mengembangkan pembelajaran dengan metode tutor sebaya pada pembelajaran microsoft excel.
- Meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar Microsoft Excel.
- Meningkatkan kreatifitas siswa dalam belajar Microsoft Excel

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru: melalui PTK ini Guru dapat mengetahui metode pembelajaran yang bervariasi khususnya metode tutor sebaya untuk memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran serta meminimalkan kesalahan siswa pada pembelajaran Microsoft Excel.
2. Bagi siswa: hasil penelitian ini bermanfaat bagi semua siswa karena terjadi pembelajaran mandiri .
3. Bagi Sekolah: hasil penelitian ini membantu memperbaiki pembelajaran TIK di sekolah.

E. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan dan kreatifitas siswa kelas VIII B SMPN 1 Pucanglaban, dalam mengerjakan Latihan Kerja Siswa, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga (hipotesa) mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan dengan metode tutor sebaya. Menurut Sudjana ( 1989 : 30 ) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian“.
Melalui tutor sebaya, siswa bukan dijadikan sebagai objek pembelajaran tetapi menjadi subjek pembelajaran, yaitu siswa diajak untuk menjadi tutor atau sumber belajar dan tempat bertanya bagi temannya. Dengan cara demikian siswa yang menjadi tutor dapat mengulang dan menjelaskan kembali materi sehingga menjadi lebih memahaminya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Microsoft Excel
Sebagaimana yang terkandung dalam Standar kompetesi dan Kompetensi dasar mata pelajaran TIK, bahwa untuk siswa kelas VIII B diberikan materi pelajaran pengolah angka, dengan Komptensi sebagai berikut :
2. Menggunakan perangkat lunak pengolah angka untuk menyajikan Informasi
2. 1. Mengidentifikasi menu dan ikon pada perangkat lunak pengolah angka
2.2. Menjelaskan fungsi menu dan ikon pada perangkat lunak pengolah angka
2.3. Menggunakan menu dan ikon pokok pada perangka lunak pengolah angka
2.4. Membuat dokumen pengolah angka sederhana
Microsoft Excel adalah program aplikasi spreadsheet (Lembar kerja) yang paling populer dan banyak digunakan saat ini untuk membantu dalam pengerjaan menghitung, menganalisa data dan presentasi data.
Program pengolah angka merupakan bagian dari materi pembelajaran yang harus diajarkan untuk tingkat SMP sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar, adapun materi yang harus disampaikan seperti pengenalan program, menu, toolbar, icon, penggunaan rumus dan fungsi sampai kepada pembuat grafik.
Program pengolah angka ini sangat penting diberikan kepada siswa, karena selain siswa dapat belajar program itu sendiri, siswa dapat menggunakannya untuk menghitung angka atau penggunaan yang ada pada mata pelajaran lain seperti Matematika dan Fisika.

2. Hakikat, Interaksi dan Hasil belajar
a. Hakikat Belajar
Menurut Bagne seperti yang dikutip oleh M. Purwanto ( 1990 : 84 ) menyatakan bahwa : “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa hingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”, sementara itu Edward Thorndike (1973) berpendapat, bahwa belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap.
Belajar mencakup semua aspek tingkah laku dan dapat dilihat dengan nyata, proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi belajar bukan merupakan tingkah laku yang nampak tetapi merupakan proses yang terjadi secara internal dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan yang baru. Hubungan baru dapat berupa antara reaksi-reaksi, perangsangan-perangansangan dan reaksi.
Dari uraian tentang belajar di atas, dapat kita ambil kesimpulan betapa pentingnya proses belajar dan kehidupan manusia. Untuk itu perlu kiranya kita menyusun sendiri prinsip-prinsip belajar. Dalam hal ini Slameto (19991:27-28) mengemukakan prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut:
a. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
b. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
c. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
d. Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut discovery;
e. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery;
f. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan intruksional yang harus dicapai;
g. Belajar memerlukan saran yang cukup,sehingga siswa dapat belajar dengan tenang;
h. Belajar perlu lingkungan yang menantang, dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya ber-eksplorasi dan belajar dengan efektif;
i. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya;

b. Interaksi Belajar
Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan bertujuan.
Dalam interaksi pembelajaran unsur guru dan siswa harus aktif, karena tidak mungkin terjadi proses interaksi bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan perbuatan. Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses, siswa harus lebih aktif daripada guru. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Inilah yang disebut dengan interaksi edukatif sebagimana yang dikemukakan Abu Achmadi dan Shuyadi, 1985:47), interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.
Ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi.
1. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif, dan anak didik pasif. Mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
2. Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula halnya anak didik, bisa sebagai penerima aksi, bisa pula sebagai pemberi aksi. Antara guru dan anak didik akan terjadi dialog.
3. Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah, komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik. Anak didik dituntut lebih aktif daripada guru, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi anak didik lain.
Penggunaan variasi pola interaksi mutlak dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.

c. Hasil Belajar
Belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar.Karena prestasi itu sendiri merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai. Menurut Winarno Surahmad (1997 : 88 ) “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”.
Dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan diri seseorang yang dinyatakan dengan cara bertingkah laku baru berkat pengalaman baru.
Hasil belajar merupakan hasil dari proses kompleks.Hal ini disebabkan banyak faktor yang terkandung di dalamnya baik yang berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal.
Adapun faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1. Faktor fisiologi seperti kondisi fisik dan kondisi indera.
2. Faktor Psikologi meliputi bakat, minat, kecerdasan motivasi, kemampuan kognitif.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah :
1. Lingkungan : alam,masyarakat/keluarga .
2. Faktor Instrumental : kurikulum/bahan pengajaran sarana dan fasilitas.

3. Motivasi belajar
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Motivasi tersebut perlu dimiliki oleh para siswa dan guru untuk memperlancar pembelajaran. Kaitannya dengan pembelajaran. motivasi merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya pada proses belajar siswa tanpa adanya motivasi, maka proses belajar siswa akan sukar berjalan secara lancar. Dalam konsep pembelajaran, motivasi berarti seni mendorong peserta didik untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Motivasi adalah syarat mutlak dalam belajar, hal ini berarti dalam proses pembelajaran. Adakalanya guru membangkitkan dorongan, desire. incentive, atau memotivasi murid untuk aktif ambil bagian dalam kegiatan belajar (Rasyad, 2003:92). Upaya menggerakkan, mengarahkan, dan mendorong kegiatan murid untuk belajar dengan penuh semangat dan vitalitas yang tinggi dinamakan memberi motivasi. Banyak bakat anak tidak berkembang hal ini menurut Purwanto (2002:61) dikarenakan tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat. maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga. Dalam proses pembelajaran para guru perlu mendesain motivasi yang tepat terhadap anak didik agar para anak didik itu belajar atau mengeluarkan potensi belajarnya dengan baik memperoleh hasil yang maksimal.

4. Tutor Sebaya
Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/ latihan kepada teman-temannya yang belum faham. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.

B. Hasil Penelitian Terdahulu
Jika pernah dilakukan maka harus dicantumkan hasil penelitian yang terdahulu, tapi jika baru membuat maka tidak perlu dituliskan…

C. Kerangka Berfikir
Dipilihnya Metode Pembelajaran Tutor Sebaya sebagai metode pembelajaran yang akan diteliti karena metode tersebut merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik dengan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.
Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.
Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan dari metode tutor sebaya sementara kekurangan metode ini antara lain :
a. Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.
b. Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.

BAB III METODE PENELITIAN
A. Subjek dan Setting Penelitian :
1. Lokasi Penelitian : SMP Negeri 1 Pucanglaban, Tulungagung.
2. Subjek Penelitian : siswa kelas VIII B sebanyak 39 orang, 20 Siswa Perempuan dan 19 siswa laki-laki.
3. Kelas VIII B adalah suatu kelas yang siswanya mempunyai kemampuan yang sangat beragam dalam hasil penilaian sehingga kelas tersebut dipilih sebagai subyek penelitian karena dianggap kelas yang representative / dapat mewakili seluruh siswa di SMP Negeri 1 Pucanglaban

B. Prosedur Penelitian
Metode penelitian yang digunakan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27). Sedangkan menurut Prof. Suhardjono (2006:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan yang dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriftif maupun eksperimen. Pada penelitian tindakan kelas bukan lagi mengetes sebuah perlakuan tetapi sudah mempunyai keyakinan akan manfaatnya sesuatu perlakuan.
Rencana Tindakan :
Jumlah siklus yang direncanakan : 3 Siklus
SIKLUS I :
1) Perencanaan :
Pada tahap ini akan dilakukan :
a. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk mata pelajaran TIK Kelas VIII B, dan mengembangkan skenario pembelajaran.
b. Menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan pada setiap tindakan.
c. Memformat lembar kerja (Letak huruf, lebar baris dan kolom, format angka serta penomoran otomatis)
d. Menggunakan rumus (penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (*), dan pangkat (^), dan membuat bingkai)
e. Menggunakan fungsi (logika, dan statistik)
f. Menyusun Lembar kerja siswa
g. Menyiapkan alat/ media yang diperlukan (LCD Proyektor)
h. Menyusun format format penilaian (unjuk kerja) dan observasi.
i. Mengadakan tes awal untuk menetukan kelompok yang menjadi tutor dan kelompok teman.
j. Membagi kelompok dan menjelaskan maksud pembagian kelompok dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan.

2) Tindakan
Melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, yaitu ;
a. Kelompok yang menjadi tutor masuk ruang komputer untuk mendapat materi secara langsung dari guru pengajar selama 1 jam pelajaran, sementara kelompok teman berada di kelas dengan diberi tugas untuk membaca materi yang akan diterangkan.
b. Guru menjelaskan materi memformat lembar kerja dengan terlebih dahulu mengadakan apersepsi.
c. Pada akhir satu jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar.
d. Setelah satu jam pelajaran Kelompok teman masuk ruangan komputer dan belajar materi memformat lembar kerja dengan dibimbing oleh kelompok tutor.

3) Pengamatan
Pada tahap ini guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :
a. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas) untuk siswa yang menjadi tutor maupun sebagi teman.
b. Menilai lembar kerja yang dikerjakan.

4) Refleksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan :
a. Apakah materi yang disampaikan oleh guru dapat disampaikan dengan jelas oleh kelompok tutor ke kelompok teman?
b. Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus kedua dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan maka pada siklus kedua akan disampaikan materi kedua)
c. Apakah terjadi interaksi belajar?
d. Hal ini terlihat dari sespon siswa sebagi tutor ataupun seabgai teman, baik itu dalam bentuk tanya jawab, pengerjaan latihan.
e. Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus kedua.

SIKLUS II :
1) Perencanaan
a. Mengidentifikasi masalah pada siklus pertama dan menyusun alternatif pemecahannya.
b. Menyiapkan media dan materi yang akan disampaikan.
c. Menukar kelompok, yang tadinya tutor menjadi kelompok teman, dan yang kelompok tempat menjadi kelompok tutor

2) Tindakan
a. Kelompok yang menjadi tutor masuk ruang komputer untuk mendapat materi secara langsung dari guru pengajar selama 1 jam pelajaran, sementara kelompok teman berada di kelas dengan diberi tugas untuk membaca materi yang akan diterangkan dan merngkum hasil belajar pada siklus pertama.
b. Guru menjelaskan materi menggunakan rumus (penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (*), dan pangkat (^), dan membuat bingkai).
c. Pada akhir satu jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar.
d. Setelah satu jam pelajaran Kelompok teman masuk ruangan komputer dan belajar materi menggunakan rumus dengan dibimbing oleh kelompok tutor.

3) Pengamatan
Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :
a. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas) untuk siswa yang menjadi tutor maupun sebagi teman.
b. Menilai lembar kerja yang dikerjakan.

4) Refleksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan :
a. Apakah materi menggunakan rumus yang disampaikan oleh guru dapat disampaikan dengan jelas oleh kelompok tutor ke kelompok teman?
b. Indikator yang dapat dilakukan adalah melihat hasil pada lembar latihan siswa. (jika hasilnya belum mencapai 75% maka akan lakukan perbaikan pada siklus ketiga dengan materi yang sama, dan jika hasilnya sudah memuakan maka pada siklus ketiga akan disampaikan materi ketiga)
c. Apakah terjadi interaksi belajar?
d. Hal ini terlihat dari sespon siswa sebagi tutor ataupun seabgai teman, baik itu dalam bentuk tanya jawab, pengerjaan latihan.
e. Menyusun rencana perbaikan sesuai dengan kelemahan-kelemahan pada yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan untuk digunakan pada siklus ketiga.

SIKLUS III
1) Perencanaan
a. Mengidentifikasi masalah pada siklus kedua dan menyusun alternatif pemecahannya.
b. Menyiapkan media dan materi menggunakan fungsi (logika, dan statistik).
c. Merubah kelompok dan membagi kelompok secara acak. (tidak lagi berdasarkan kepada hasil tes yang dilakukan pada perencanaan di siklus pertama), tetapi tetap menggunakan nama kelompok tutor dan kelompok teman.

2) Tindakan
a. Kelompok yang menjadi tutor masuk ruang komputer untuk mendapat materi secara langsung dari guru pengajar selama 1 jam pelajaran, sementara kelompok teman berada di kelas dengan diberi tugas untuk membaca materi yang akan diterangkan dan merngkum hasil belajar pada siklus pertama.
b. Guru menjelaskan materi Menggunakan fungsi (logika, dan statistik).
c. Pada akhir satu jam pelajaran Guru melakukan tanya jawab dan menjelaskan kesimpulan dari kegiatan belajar.
d. Setelah satu jam pelajaran Kelompok teman masuk ruangan komputer dan belajar materi menggunakan rumus dengan dibimbing oleh kelompok tutor.

3) Pengamatan
Guru mengamati proses kegiatan yang sedang berlangsung, diantaranya :
a. Mengamati interaksi belajar yang sedang berlangsung (aktifitas, kreatifitas) untuk siswa yang menjadi tutor maupun sebagi teman.
b. Menilai lembar kerja yang dikerjakan.

4) Refleksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengevalusi seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan membuat suatu kesimpulan dari hasil pengamatan tersebut.

C. Instrumen Pengumpulan Data
Dari hasil pelaksanaan penelitian tindakan, ditentukan teknik pengumpulan data yang berorientasi pada observasi partisipasif (Wolcott,1992), yaitu peneliti melakukan observasi sambil ikut serta dalam kegiatan yang sedang berjalan.
Pengambilan data dilakukan dengan Tes dan Observasi. Untuk memudahkan dan terkumpulnya data maka peneliti menggunakan format penilaian (unjuk kerja) dan format observasi dengan skala penilaian.
Format Observasi :
Aspek yang dinilai Skala Nilai :

1. Materi yang disampai-kan guru dapat dimengerti oleh tutor K S B BS
2. Materi yang disampai-kan tutor dapat dimengerti oleh teman K S B BS
3. Terjadi interaksi belajar (keseriusan, perhatian, dan tanya jawab tutor dengan teman ) K S B BS
4. Kreatifitas dalam pengerjaan latihan K S B BS

Keterangan :
K=Kurang, S=Sedang, B=Baik, BS=Baik Sekali
Format Penilaian (Unjuk Kerja)
No Penilaian Skor maks.
1. Membuat tabel bingkai.......................................... 10
2. Merubah lebar baris .......................................... 5
Merubah lebar kolom .......................................... 5
3. Merubah ukuran dan jenis font ................................ 10
4. Menentukan tata letak huruf (left, center, right, justify) .... 10
5. Menggunakan fungsi logika ....................................
Menentukan kenaikan siswa .................................... 10

Kriteria Penilaian :
8 – 10 = Sangat Baik ( A)
7 – 7,9 = Baik (B)
6 – 6,9 = Cukup (C)
≥ 5,9 = Kurang (K)

D. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisa data, peneliti menggumpulkan dan mengolah data secara kuantitatif dari format observasi dan format penilaian (unjuk kerja) dari setiap siklus sehingga dapat mengetahui prosentase peningkatan hasil belajar yang kemudian dideskrifsikan untuk diambil suatu kesimpulan.

E. Jadwal Penelitian

No Rencana kegiatan
Waktu
Oktober Nopember Desember Januari
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Persiapan
Menyusun Konsep Pelaksanaan
Menyusun Instrumen pengamatan dan penilaian
Mengadakan tes awal dan membagi kelompok
2 Pelaksanaan
Mempersiapkan alat
Melakukan tindakan siklus I
Melakukan tindakan siklus II
Melakukan tindakan siklus III
3 Penyusunan Laporan
Menyusun Konsep Pelaporan
Perbaikan laporan
Penggandaan dan penyerahan laporan


















Lampiran lampiran :
Daftar Pustaka
Sukmadinata, Syaodih, Nana. 2005. Metode Penelitian, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Djamarah, Bahri, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Permana, Budi. 2001. Seri Penuntun Praktis Microsoft Exel 2002. Jakarta : PT Gramedia.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT Bumi Aksara.
Sagala, H.Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV Alfabeta

________. Metoda Pembelajaran. Alamat Web : www.smpn1pucanglaban.com
Diakses pada tanggal …………………..